INTERELASI ISLAM DAN JAWA
(Studi Museum Ronggo Warsito)
Interelasi
Islam dan Budaya Jawa dapat ditemukan di banyak tempat, salah satunya dapat
dilihat di Museum Ronggo Warsito. Saya akan membahas Interelasi Islam dan
Budaya Jawa dari arsitektur Masjid Agung
Demak.
(Gambar. Miniatur Masjid Agung Demak)
(Gambar. Mustoko)
Masjid Agung Demak ini mempunyai
arsitektur yang sangat unik, dari mulai mustoko yang ada pada masjid itu.
Mustoko itu dibuat berdasarkan empat elemen penting, yaitu air, angin, tanah,
dan api.
Proses
pembuatan mustoko itu adalah:
1.
Tanah
liat dicampur dengan air lewat perendaman selama sehari semalam, sehingga tanah
liat tersebut benar-benar bercampur dengan air dan menghasilkan bubur tanah
yang lembut lalu dilakukan pengaringan dan pengendapan.
2.
Pemindahan
endapan tersebut agar tanah menjadi kenyal dan ini membutuhkan penyesuaian
dengan perasaan, selama prose situ tidak boleh terkena sinar matahari langsung,
selama kurang lebih dua hari kemudian dioleni sampai rata sehingga mendapatkan
struktur tanah liat yang berkualitas. Kemudian dilakukan pembentukan awal
dengan teknik pilin halus dan teknik pijit sehingga
menghasilkan bentuk secara global,
3.
Beberapa
hari kemudian baru dibuat ornamen, dalam pembuatan ornamen dibutuhkan beberapa
alat tatah ukir, butsir, dan beberapa alat bantu lainnya. Setelah terbentuk
mustoko secara penuh, kemudian dilakukan pengeringan. Adapun teknik
pengeringannya masih alami (pelan-pelan dan tidak bolehterkena sinar matahari
langsung), proses pengeringan dibutuhkan beberapa waktusampai benar-benar
kering.
4.
Mustoko
yang sudah kering, kemudian dibakar dengan menggunakan tungku yang menggunakan
bahan bakar kayu dengan temperature suhu 1000 C selama sehari
semalam. Disitulah empat elemen yang dimaksud para wali.
Bentuk masjid
demak yang didominasi atap tumpang telah banyak menimbulkan penafsiran makna
dan filosofi. Contohnya bangunan utamanya persegi empat dengan empat tiang yang
berupa kayu besar untuk menunjang atapnya yang berlapis-lapis, sering kali
dilengkapi dengan serambi di sisi timur, tidak jarang lokasinya menjadi satu
dengan kuburan, adanya tembok bata yang melingkari seluruh kompleks adalah
bentuk khas dari penampilan masjid di nusantara.
Asal usul pola
ini telah melewati banyak perdebatan, khususnya apakah atap yang berlapis-lapis
merupakan kelanjutan dari penggambaran sebuah gunung Meru orang Hindu Jawa yang
masih bias disaksikan di Bali, atau manifestasi bentuk bangunan tradisional
Jawa yaitu Joglo, atau apakah pola tersebut lebih berasal dari orang-orang Cina
Muslim sebagai konseptor dan pembangunannya diperkirakan sangat berpengaruh di
Demak dan kota-kota pesisir pantura Jawa pada abad ke-XV.
Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa sanya Masjid
Agung Demak ini tempat berkumpulnya para wali untuk beribadah, berdiskusi
tentang penyebaran agama Islam, dan mengajar ilmu-ilmu Islam kepada masyarakat
sekitar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan adanya interelasi Islam dan
Budaya Jawa terlihat dari arsitektur Masjid Agung Demak.

