Senin, 30 November 2015

Interelasi Islam dan Jawa

INTERELASI ISLAM DAN JAWA
(Studi Museum Ronggo Warsito)
Interelasi Islam dan Budaya Jawa dapat ditemukan di banyak tempat, salah satunya dapat dilihat di Museum Ronggo Warsito. Saya akan membahas Interelasi Islam dan Budaya Jawa dari arsitektur Masjid  Agung Demak.
(Gambar. Miniatur Masjid Agung Demak)

  (Gambar. Mustoko)
                                       
Masjid Agung Demak ini mempunyai arsitektur yang sangat unik, dari mulai mustoko yang ada pada masjid itu. Mustoko itu dibuat berdasarkan empat elemen penting, yaitu air, angin, tanah, dan api.
Proses pembuatan mustoko itu adalah:
1.      Tanah liat dicampur dengan air lewat perendaman selama sehari semalam, sehingga tanah liat tersebut benar-benar bercampur dengan air dan menghasilkan bubur tanah yang lembut lalu dilakukan pengaringan dan pengendapan.
2.      Pemindahan endapan tersebut agar tanah menjadi kenyal dan ini membutuhkan penyesuaian dengan perasaan, selama prose situ tidak boleh terkena sinar matahari langsung, selama kurang lebih dua hari kemudian dioleni sampai rata sehingga mendapatkan struktur tanah liat yang berkualitas. Kemudian dilakukan pembentukan awal dengan teknik pilin halus dan teknik pijit sehingga menghasilkan bentuk secara global,
3.      Beberapa hari kemudian baru dibuat ornamen, dalam pembuatan ornamen dibutuhkan beberapa alat tatah ukir, butsir, dan beberapa alat bantu lainnya. Setelah terbentuk mustoko secara penuh, kemudian dilakukan pengeringan. Adapun teknik pengeringannya masih alami (pelan-pelan dan tidak bolehterkena sinar matahari langsung), proses pengeringan dibutuhkan beberapa waktusampai benar-benar kering.
4.      Mustoko yang sudah kering, kemudian dibakar dengan menggunakan tungku yang menggunakan bahan bakar kayu dengan temperature suhu 1000 C selama sehari semalam. Disitulah empat elemen yang dimaksud para wali.
Bentuk masjid demak yang didominasi atap tumpang telah banyak menimbulkan penafsiran makna dan filosofi. Contohnya bangunan utamanya persegi empat dengan empat tiang yang berupa kayu besar untuk menunjang atapnya yang berlapis-lapis, sering kali dilengkapi dengan serambi di sisi timur, tidak jarang lokasinya menjadi satu dengan kuburan, adanya tembok bata yang melingkari seluruh kompleks adalah bentuk khas dari penampilan masjid di nusantara.
Asal usul pola ini telah melewati banyak perdebatan, khususnya apakah atap yang berlapis-lapis merupakan kelanjutan dari penggambaran sebuah gunung Meru orang Hindu Jawa yang masih bias disaksikan di Bali, atau manifestasi bentuk bangunan tradisional Jawa yaitu Joglo, atau apakah pola tersebut lebih berasal dari orang-orang Cina Muslim sebagai konseptor dan pembangunannya diperkirakan sangat berpengaruh di Demak dan kota-kota pesisir pantura Jawa pada abad ke-XV.
Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa sanya Masjid Agung Demak ini tempat berkumpulnya para wali untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajar ilmu-ilmu Islam kepada masyarakat sekitar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan adanya interelasi Islam dan Budaya Jawa terlihat dari arsitektur Masjid Agung Demak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar