Senin, 07 Desember 2015

Tradisi Jawa di Kelurahan Rowosari Tembalang Semarang

TRADISI IRING-IRINGAN PENGANTIN SUNAT DI KELURAHAN ROWOSARI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG
(Oleh: Agustina Budian Kurniati)

Tradisi Jawa masih sangat kental terasa di daerah saya tepatnya di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Daerah saya ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak. Sebenarnya banyak sekali tradisi-tradisi disini, tapi saya akan membahas salah satu tradisi dari semuanya yaitu tradisi iring-iringan pengantin sunat. Ketika anak laki-laki yang sudah memasuki umur 8 tahun di daerah saya sudah ramai meminta untuk di sunat (khitan). Khitan ini menunjukkan bahwa anak ini sudah mencapai aqil baligh yaitu pada usia tersebut anak laki-laki sunah wajib melaksanakan ibadah-ibadah.
Seminggu setelah sembuh dari khitan orang tua yang masih menjunjung tinggi tradisi biasanya mengadakan syukuran besar-besaran dengan mengiring anak laki-laki tersebut keliling dukuh dengan menaiki kuda, selain menaiki kuda juga diiringi dengan gemuruhnya suara drumband atau rebana dan miniatur bentuk bintang, bulan, dll., serta kembang manggar yang dibawa oleh anak-anak kecil maupun orang dewasa. Tradisi ini sangat menarik perhatian masyarakat sekitar sehingga banyak masyarakat yang menunggu-nunggu untuk menyaksikan iring-iringan itu di depan rumah masing-masing maupun ikut serta di belakang pengantin.

(Gambar. Drumband)

(Gambar. Pengantin Sunat)


Sesampainya di rumah anak tersebut, anak yang menjasi pengantin akan menghatamkan Al-qur’an di depan khalayak ramai. Sebelum pembacaan anak itu menerima bimbingan membaca Al-qur’an dengan baik dan benar sesuai makhraj oleh Pak Kiai atau Ustadz yang mengajari anak tersebut mengaji. Untuk masa sekarang hanya beberapa orang saja yang masih melaksanakan tradisi ini karena keterbatasan biaya. Akan tetapi, seharusnya tradisi ini harus dilestarikan sebagai identitas interelasi islam dan jawa di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar