Sabtu, 26 Desember 2015

Makam ( Punden) Sesepuh Rowosari Tembalang Semarang



MAKAM (PUNGGEH) SESEPUH KELURAHAN ROWOSARI TEMBALANG SEMARANG
(Mbah Muhsinin, Mbah Tego, Mbah Citro)

Makam (Punggeh) sesepuh rowosari ini ditemukan oleh ulama’ (kiai) yang disegani oleh masyarakat kelurahan rowosari beliau bernama Kiai (Mbah) Munif. Saya menelusuri sejarah dari makam-makam itu dengan mewawancarai seorang sesepuh desa yaitu ketua LPMK (Lembaga Pertahanan Masyarakat Kelurahan) yang telah menjabat selama 5 periode sampai sekarang, usut punya usut karena ketua keluarahan yang meminta beliau untuk tidak meninggalkan amanat ini, beliau adalah bapak Suroso,S.Ag. (69 tahun).
Cerita yang saya dapatkan dari beliau bahwa sesepuh kelurahan rowosari ini ada 3, yaitu mbah Muhsinin, mbah Tego, dan mbah Citro. Mereka mempunyai sejarah sendiri-sendiri sehingga sampai di kelurahan rowosari ini.
                                               Gambar. Makam sesepuh Rowosari sisi depan                                                 
                                              
                                Gambar. Makam sesepuh Rowosari sisi dalam

1.      Mbah Muhsinin
Mbah Muhsinin ini adalah sesepuh Rowosari yang dimakamkan di bagian barat dukuh krasak dari kelurahan Rowosari, beliau mulai sekitar tahun 1825 merupakan petugas untuk mengislamkan dan menikahkan masyarakat Semarang bagian timur khususnya Rowosari. Beliau pemegang role agama yang otomatis menjadi kiai di Rowosari walaupun silsilahnya terputus dengan masyarakat sekarang. Beliau dipercaya sebagai cikal bakal masyarakat Rowosari bagian barat dan dipercaya sebai sesepuh yang menurunkan kiai-kiai yang ada di Rowosari ini. Sampai sekarang belum ada yang menemukan dengan jelas sejarah dan tahun beliau dari lahir sampai meninggal.
2.      Mbah Tego
Mbah Tego ini menurut cerita beliau adalah salah seorang pengikut (tentara) pangeran diponegoro. Pada tahun 1830 para tentara pangeran diponegoro telah dijebak oleh Belanda dan ditangkap di kota Magelang dan ditahan di kabupaten Ungaran. Dalam masa penahanan pangeran diponegoro, para pengikutnya berusaha mengeluarkan beliau dari tahanan Belanda, akan tetapi karena sangat ketatnya penjagaan gerak-gerik mereka diketahui oleh tentara Belanda. Sehingga para tentara pangeran diponegoro lari menyebar di kebun tebu sebelah selatan dan timur kabupaten Ungaran. Karena sulitnya dalam pencarian tentara-tentara pangeran diponegoro, maka kebun tebu tadi ditebang (dibabad) oleh tentara Belanda, dan sampai sekarang sebelah selatan kabupaten ungaran ada sebuah desa yang dinamakan Babadan.
Salah satu tentara pangeran diponegoro ada yang berlari sampai ke Rowosari bagian tengah. Beliau mulai beristirahat dan menetap, serta bersumpah tidak akan kembali sebelum berhasil membawa pangeran diponegoro. Disamping itu, pihak belanda berfikir penahanan pangeran diponegoro di Ungaran mulai tidak aman, maka dipindahkan ke Semarang yang selanjutnya dibawa ke Jakarta. Dengan ini salah satu tentara tadi menyatakan sudah tidak memungkinkan lagi untuk berjumpa dengan pangeran diponegoro sehingga beliau bersumpah dan siap merelakan hidup dan matinya untuk berdakwah di salah satu tempat di Rowosari bagian tengah yang bernama Gunung Getas. Karena kerelaan beliaulah maka beliau dijuluki dengan mbah Tego (rela).
3.      Mbah Citro
Mbah Citro merupakan sesepuh Rowosari bagian timur laut yang pada masanya dulu menjabat sebagai lurah di kelurahan Sendangmulyo yang tidak diketahui tahun penjabatannya dan tahun meninggal dunianya beliau. Hanya menurut cerita ulama’ besar sekitar Rowosari beliau itu selain lurah juga pemegang kepemimpinan agama (masalah hukum, nikah, talak, dan ruju’) di wilayah timur laut kelurahan Rowosari karena kekayaannya melimpah (ratusan ternak kerbau). Beliau biasanya menggembala ternaknya di wilayah Rowosari tepatnya di timur sungai (sekarang Sungai Babon). Akan tetapi pada suatu sore, beberapa ekor kerbaunya belum masuk kandang, beliau mencarinya sampai ke sebelah timur desa Rowosari yang daerah disana merupakan dataran rendah yang nerwujud rawa-rawa. Ternyata terlihat disana beberapa ekor kerbaunya sedang minum air, tetapi kerbau-kerbau itu setelah kenyang tidak mau digiring untuk pulang dan kembali ke kandang. Sehingga beliau untuk beberapa hari juga tidak pulang.
Anak dan cucu-cucunya kebingungan mencari mbah Citro dimana-mana, setelah beberapa hari mbah Citro mereka temukan sudah menjadi kerangka tulang-tulang di tempat rawa-rawa tadi dengan ditunggui oleh kerbau-kerbau miliknya dan selanjutnya beliau dikubur di tempat itu juga. Karena di sekeliling tanah itu merupakan wilayah yang subur, dengan demikian wilayah itu dinamakan “Rowosari”.
Mulai dari ditemukannya makam-makam beliau bertiga sampai sekarang, ketiganya diakui oleh masyarakat Roeosari sebagai sesepuh desa. Tiap-tiap minggu akhir bulan Muharram diselenggarakan peringatan (Haul) untuk mengingat jasa-jasa mereka oleh masyarakat Rowosari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar