MAKAM (PUNGGEH) SESEPUH KELURAHAN
ROWOSARI TEMBALANG SEMARANG
(Mbah Muhsinin, Mbah Tego, Mbah
Citro)
Makam (Punggeh) sesepuh rowosari
ini ditemukan oleh ulama’ (kiai) yang disegani oleh masyarakat kelurahan
rowosari beliau bernama Kiai (Mbah) Munif. Saya menelusuri sejarah dari
makam-makam itu dengan mewawancarai seorang sesepuh desa yaitu ketua LPMK
(Lembaga Pertahanan Masyarakat Kelurahan) yang telah menjabat selama 5 periode
sampai sekarang, usut punya usut karena ketua keluarahan yang meminta beliau
untuk tidak meninggalkan amanat ini, beliau adalah bapak Suroso,S.Ag. (69
tahun).
Cerita yang saya dapatkan dari
beliau bahwa sesepuh kelurahan rowosari ini ada 3, yaitu mbah Muhsinin, mbah
Tego, dan mbah Citro. Mereka mempunyai sejarah sendiri-sendiri sehingga sampai
di kelurahan rowosari ini.
Gambar. Makam sesepuh Rowosari sisi dalam
1. Mbah
Muhsinin
Mbah Muhsinin ini adalah sesepuh Rowosari yang
dimakamkan di bagian barat dukuh krasak dari kelurahan Rowosari, beliau mulai
sekitar tahun 1825 merupakan petugas untuk mengislamkan dan menikahkan masyarakat
Semarang bagian timur khususnya Rowosari. Beliau pemegang role agama yang otomatis menjadi kiai di Rowosari walaupun
silsilahnya terputus dengan masyarakat sekarang. Beliau dipercaya sebagai cikal
bakal masyarakat Rowosari bagian barat dan dipercaya sebai sesepuh yang
menurunkan kiai-kiai yang ada di Rowosari ini. Sampai sekarang belum ada yang
menemukan dengan jelas sejarah dan tahun beliau dari lahir sampai meninggal.
2. Mbah
Tego
Mbah Tego ini menurut cerita beliau adalah salah
seorang pengikut (tentara) pangeran diponegoro. Pada tahun 1830 para tentara
pangeran diponegoro telah dijebak oleh Belanda dan ditangkap di kota Magelang
dan ditahan di kabupaten Ungaran. Dalam masa penahanan pangeran diponegoro,
para pengikutnya berusaha mengeluarkan beliau dari tahanan Belanda, akan tetapi
karena sangat ketatnya penjagaan gerak-gerik mereka diketahui oleh tentara
Belanda. Sehingga para tentara pangeran diponegoro lari menyebar di kebun tebu
sebelah selatan dan timur kabupaten Ungaran. Karena sulitnya dalam pencarian
tentara-tentara pangeran diponegoro, maka kebun tebu tadi ditebang (dibabad)
oleh tentara Belanda, dan sampai sekarang sebelah selatan kabupaten ungaran ada
sebuah desa yang dinamakan Babadan.
Salah satu tentara pangeran diponegoro ada yang
berlari sampai ke Rowosari bagian tengah. Beliau mulai beristirahat dan
menetap, serta bersumpah tidak akan kembali sebelum berhasil membawa pangeran
diponegoro. Disamping itu, pihak belanda berfikir penahanan pangeran diponegoro
di Ungaran mulai tidak aman, maka dipindahkan ke Semarang yang selanjutnya
dibawa ke Jakarta. Dengan ini salah satu tentara tadi menyatakan sudah tidak
memungkinkan lagi untuk berjumpa dengan pangeran diponegoro sehingga beliau
bersumpah dan siap merelakan hidup dan matinya untuk berdakwah di salah satu
tempat di Rowosari bagian tengah yang bernama Gunung Getas. Karena kerelaan
beliaulah maka beliau dijuluki dengan mbah Tego (rela).
3. Mbah
Citro
Mbah Citro merupakan sesepuh Rowosari bagian timur
laut yang pada masanya dulu menjabat sebagai lurah di kelurahan Sendangmulyo
yang tidak diketahui tahun penjabatannya dan tahun meninggal dunianya beliau.
Hanya menurut cerita ulama’ besar sekitar Rowosari beliau itu selain lurah juga
pemegang kepemimpinan agama (masalah hukum, nikah, talak, dan ruju’) di wilayah
timur laut kelurahan Rowosari karena kekayaannya melimpah (ratusan ternak
kerbau). Beliau biasanya menggembala ternaknya di wilayah Rowosari tepatnya di
timur sungai (sekarang Sungai Babon). Akan tetapi pada suatu sore, beberapa
ekor kerbaunya belum masuk kandang, beliau mencarinya sampai ke sebelah timur
desa Rowosari yang daerah disana merupakan dataran rendah yang nerwujud
rawa-rawa. Ternyata terlihat disana beberapa ekor kerbaunya sedang minum air,
tetapi kerbau-kerbau itu setelah kenyang tidak mau digiring untuk pulang dan
kembali ke kandang. Sehingga beliau untuk beberapa hari juga tidak pulang.
Anak
dan cucu-cucunya kebingungan mencari mbah Citro dimana-mana, setelah beberapa
hari mbah Citro mereka temukan sudah menjadi kerangka tulang-tulang di tempat
rawa-rawa tadi dengan ditunggui oleh kerbau-kerbau miliknya dan selanjutnya
beliau dikubur di tempat itu juga. Karena di sekeliling tanah itu merupakan
wilayah yang subur, dengan demikian wilayah itu dinamakan “Rowosari”.
Mulai dari ditemukannya makam-makam
beliau bertiga sampai sekarang, ketiganya diakui oleh masyarakat Roeosari
sebagai sesepuh desa. Tiap-tiap minggu akhir bulan Muharram diselenggarakan
peringatan (Haul) untuk mengingat jasa-jasa mereka oleh masyarakat Rowosari.



